Jumat, 24 Mei 2013

Lelakiku

Halo lelakiku
Kelak jika ini terbaca olehmu, berarti saya sudah menjadi semu
Saya jujur tidak mengerti dirimu
Sudah tiga tahun lebih sejak bertemu
Tapi engkau masih ragu

Hingga yang ditakutkan itu ternyata menimpa kita
Bukan putus. Tapi lebih dari itu.
Ada bintang yang akhirnya harus dipupuskan
Dan kenyataan ini akan menjadi sebuah luka

Tidak pernah saya menyalahkanmu
Tidak pernah saya menuntutmu
Tidak pernah saya menekanmu

Tapi, saya hanya ingin bertanya
Siapa kamu?
Yang dulu pernah meminta bercumbu
Yang dulu selalu bilang rindu
Kini semua seperti batu

Ketahuilah, apapun yang kamu lakukan
Apapun yang kamu putuskan
Kamu tetap lelakiku

Selamanya.

Kamis, 28 Maret 2013

(Bukan) Selesai.

26 Maret 2013.

Bertemu.

Saya menangis.

Saya bertanya 'pernahkah kamu melihat wajah seseorang dan selalu jatuh cinta dengannya?'

Dia jawab 'gak. sudah lama tidak pernah merasakan jatuh cinta'

Saya paham.

Saya bukan yang ia maksud.

Dan ada kata-kata 'kalian'

Saya disamakan dengan siapa?

Oh, mantannya.

Katanya, mantannya juga masih punya perasaan ke dia.

Sama. Seperti saya.

Dan mereka sudah selesai dua hari yang lalu.

Saya tanya 'apakah ini selesai?'

Dia jawab 'mungkin.'

Dia bilang 'aku tau itu cincin dari seseorang'

Cincin? Ah, seandainya dia tau cincin ini dibeli dengan uang sendiri.

Karena menunggu cincin darinya pasti lama.

Mungkin, tak akan pernah ada cincin.

Saya tanya 'bagaimana perasaanmu ke aku sekarang?'

Dia jawab 'masih ada. tapi tidak sebesar yang dulu.'

Lanjutnya 'itu kan yang ingin kamu dengar?'

Sayang..

Aku tidak ingin dengar itu.

Aku hanya ingin dengar kamu baik-baik saja.

Aku hanya ingin dengar kamu bercerita apa saja.

Aku hanya ingin dengar kamu bahagia.

Aku hanya ingin dengar kamu sayang aku.

Tapi..

'Aku tidak bisa beri kamu kepastian.'

Aku tahu, sayang.

Dan aku tidak memaksa.

Aku tidak akan bertanya lagi 'gimana ya biar bisa jadi istri kamu?'

Aku mencoba memposisikan sebagai kamu.

Aku paham. Aku mengerti. Aku menunggu.

Karena..

Aku sayang kamu, tidak lebih daripada besok, namun lebih dari yang kemarin.


Semoga Tuhan memberi jalan agar kamu baca ini.

Kamis, 18 Oktober 2012

Ada seseorang

Ada seseorang.. Yang selalu memperhatikanmu dari jauh. Yang selalu memikirkanmu dari jauh. Yang selalu mengkhawatirkan keadaanmu. Yang selalu mengintip kontakmu dan bergumam 'sedang apa ya kamu?' Yang berdoa untukmu, bukan untuk berdua. Yang ingin selalu bersamamu. Yang menerima dirimu apa adanya. Walaupun.. Ia terluka. Ia kecewa. Ia marah. Ia pernah berteriak kepadamu. Ia sering menangis karenamu. Ia sering hampir putus asa. Ia sering mengelus dada. Ia pernah memutuskanmu. Ia berulang kali mengucap selamat tinggal kepadamu. Ia berulang kali menghapus kontakmu. Ia berulang kali menyakitimu. Ia berdoa agar dijauhkan dan dibahagiakan dengan jalan masing-masing. Ia pasrah. Tapi.. Dua tahun tak pernah berubah. Dua tahun tak mau berubah. Dua tahun tak akan berubah. Tak mau mengubah atau diubah. Dua tahun tak pernah berganti. Dua tahun tak mau berganti. Tak mau mengganti atau diganti. Ada seseorang.. Untuk kamu. -seseorang-

Selasa, 10 Juli 2012

Dua tahun lebih berlalu. Dua minggu sudah tidak bertemu. Entah ada apa tiba-tiba semua terputus oleh waktu. Hingga suatu hari, ada sebuah lagu. Menampar dengan kata tidak akan menyerah. Terhenyak dan menghela nafas. Ini hanya sekian lagu yang berhasil memproduksi kegalauan tingkat tinggi. Menjual mimpi dan kata-kata imajinasi. Tapi, toh tertampar juga. Hingga akhirnya ada kesimpulan pendek. Mengikuti sang pembuat lagu, tidak akan menyerah. Sekali lagi, tidak menyerah. Sekali lagi mengemis hati kamu. Sekali lagi dari beribu-ribu sekali lagi sebelumnya, meminta kamu. Entah itu namanya balikan, atau namanya memulai. Intinya bukan disini, tapi di hatimu. Terlalu banyak kata di kepala, tapi tidak mengeluarkan bunyi apapun. Terlalu banyak pertanyaan, tapi tidak sinkron dengan jari. Yah, ini hanya akan menjadi sebuah hari lain yang diberi kata kunci galau. Kata yang menjadi agitasi murahan. Dan makin tanpa makna. Karena saya sebenarnya bukan galau. Tapi saya sakau. Sakau kamu. Jakarta, menjelang 1 bulan ulang tahunmu yang ke-32.

Rabu, 02 Mei 2012

Hampir

Hampir pukul dua belas. Hampir tidak jadi menulis ini. Hampir saya putus asa dengan dia. Tunggu. Bukan hampir. Tapi bukan juga nyaris. Sudah beribu jam terbuang, beratus hari mengambang dan berjuta air mata menguap. Entah ini biru, atau ini sudah menjadi merah. Entah ini masih laut tenang atau sebenarnya jauh lebih ke dalam, anak gunung yang siap meletus. Semacam ada konspirasi antara jemari dan hati, sehingga selalu merasa gatal untuk memulai komunikasi. Padahal, bisa saja lebih baik tidak mengetik agar tak jadi pemantik. Lebih baik tidak bicara agar tak jadi perkara. Setiap malam selalu begini. Menunggu besok pagi bangun tanpa motivasi karena ada yang menggantung. Ingin tidak bangun lagi, tapi pasti itu pilihan bodoh. Bunuh diri berarti menyerah. Dan saya tidak mau menyerah, apalagi dibilang pengecut. Harusnya ini masalah sepele. Toh, memang sudah bukan siapa-siapa lagi. Bukan apa-apa lagi. Sekali lagi, harusnya. Tapi, ada kata seharusnya, berarti ada kata faktanya. Ya, faktanya ini bukan masalah sepele. Jika sepele, saya tidak akan malas bangun lagi. Jadi apa? 25 bulan untuk apa? Entah ini biru, atau ini sudah menjadi merah. Tidak tahu harus jadi laut tenang atau jadi gunung yang ingin berang. Konspirasi jemari dan hati mulai lagi. Mulai mengetik di alat komunikasi yang seakan membuat jarak tidak ada. Jarak harafiah, tapi jarak hati malah semakin jauh. "Maaf." Satu kata. Cukup. Saya libas tangan sendiri agar tidak ada kata lain lagi. Hampir pukul dua belas. Hampir tidak jadi menulis ini. Bukan galau. Hanya hampir putus asa dengan dia

Senin, 27 Juli 2009

Liverpool, no smoking, Carlsberg, warna kostum dan Indonesia

Kemarin baru nonton Liverpool lawan Singapur ( sebenernya kebalik, tuan rumahnya kan Singapur)
PUASSSSSSSSSSSSSSSSSS............
Apalagi Singapur kalah...
MAKINNNN PUASSSSSSSSSSSS................

Haha, tapi sebenrnya iri juga sih.. Masa Malaysia udah didatengin MU, Singapur sama Liverpool terus Indonesia sama BOM?
Sedih...
Dan euforia National Stadium yang penuh dengan kostum merah semakin mengingatkan saya ke negeri sendiri...
Andaikan yang sedang bertanding adalah Indonesia... (sigh)

Dan asiknya, kemarin akhirnya benar-benar menjadi penonton, yang gak repot harus urus ini itu, yang cuma duduk santai, teriak2 (soalnya kan di negeri orang, ngata2in apapun juga pada gak ngerti, hehe)

Dan saya terkesima, GAK ADA ASAP ROKOK!!! Rokok tergantikan dengan barang yang diharamkan MUI yaitu CARLSBERG...
Nonton sendirian, ditemani bule-bule gila yang sinting n teriak2 "WE WANT TORRES!!!"
Dan mereka jadi pionir kalo bikin WAVE...
Mana lagi yang bisa sekeren itu coba???
Bergelimangan bir dimana-mana, gak cewe gak cowo...
Asik banget dah...

Iri... Seandainya saja Indonesia yang kecipratan dijumpa fans kan sama mereka.. Hiks...
Semakin iri ketika melihat Liverpool memakai jersey HITAM,bukan MERAH (saya sempat merasa salah kostum soalnya kalo merah berarti bela Singapur dongg)
Nah kalo MU jadi dateng ke Indonesia, kita pake PUTIH,bukan MERAH...
Ngeselin abis...
Dan keirian serta kesenangan saya dirusak oleh beberapa komentar dari teman-teman sinting itu (walaupun saya maafkan juga sih karena dapet Carlsberg gratis bergelas-gelas)

Bule 1 : You are from Indonesia? Then you are terrorist! Hahahhaa.... (ini pasti udah mabok)
Bule 2 : Why are there always bomb in Indonesia? (always?? gigi lo... emang Indonesia kayak Irak yang ada bom masih bisa jalan kaki santai?)
Bule 3 : Indonesia?? Great!! It is near Bali, right? (ketawan gak lulus peta buta pas SD)
Malaysian : Why did MU cancel the tour, hah? Wuahahhahahhaa... (a****g!!! gw mantan calo neh!)
Indiahe 1 : Wow! I like Indonesia! I love Tanah Abang! (woi mas, itu namanya lo pulang kampung!)
Indiahe 2 : I don't like Indonesian people ( lo pikir lo lagi ngemeng sama siapa,dul?)
Sing-lish 1 : You study here, hah? Jalan-jalan mulah mau,lah? Olang Indonesia itu bolos2 ya... (astaga.... ketawan sih...)
Sing-lish 2 : Mau pelgi kemana,hah? Lo nanti tinggal ngomong sama ai. Gue nanti antal ke Olchad. ( lo gw!! Ajaib!!)

Itu baru beberapa, masih banyak sebenernya.... Tapi saya udah males nginget2 komen-komen yang seakan merendahkan negara kita...\

Terakhir! Baru dua hari disini, saya sudah mendengar 2 kali lagu "Mana dimana anak kambing saya?" versi Malaysia..
Maksa banget, tapi yahhh yang namanya lagu permainan itu kan gak bertuan, ya gak?
Walaupun saya entah mengapa merasa dirampok...
(anak gw ntar nyanyi apaan dong? masa lagu Hijau Daun or Wali? Rusak!)

-keluh kesah di internet hotel 81 Bencoleen, Singapura-

Rabu, 22 Juli 2009

Wisdom

Kata-kata bijak selalu diasosiasikan dengan pepatah Cina...
Saya selalu salut dengan berbagai buku bercerita klasik mengenai pepatah Cina...
Umumnya ceritanya apik dan selalu ada hikmah dibaliknya...
Sangat menyegarkan pikiran dan menjernihkan otak...
Terkadang malah bisa menentramkan hati dan jiwa...
Hebat...

Kemarin, setelah bersenang-senang bersama dua orang teman saya, saya serasa diisi kembali...
Berbagai cerita dan kekonyolan kami bagi bersama...
Dan sudah pasti, kodrat setiap manusia adalah membicarakan manusia lainnya...
Seakan itu akan selalu menjadi topik yang abadi...
Mencerca, bingung hingga tak habis pikir tentang kelakuan teman-teman lainnya...
(makanya saya gak percaya dengan pepatah jika kamu bersin, maka kamu sedang dibicarakan oleh orang lain)

Ditemani udara sejuk Puncak, susu segar dan pemandangan hijau, kami berbagi semua cerita dan informasi, mulai dari yang lucu, mengesalkan, ironis hingga sudah malas membicarakannya...
Ada teman saya yang baru jadian tapi katanya tidak dianggap...
Ada teman saya yang masih belum bisa move on...
Ada teman saya yang selalu berantem sama pacarnya untuk hal-hal sepele...
Ada teman saya yang akhirnya bisa 'keluar' dari lobang keterpurukan hatinya...
Dan tak lupa, topik mengenai seks selalu menjadi yang paling diminati...
(Ken, Ga... Saya jadi rindu kalian lagii...)

Well, celetukan demi celetukan berisi sindirian acapkali terucap...
Dimulai dari teman saya yang 'menjilat ludah sendiri'
"Orang tuh bisa marah-marahin temennya, tapi goblok sama diri sendiri"
Ya, benar...

MANUSIA BISA BIJAK DENGAN SESAMA, TAPI TIDAK BISA BIJAK DENGAN DIRI SENDIRI...

Ini fakta dan ironis...
Saya bukan orang sok suci... Tapi beginilah kita...
Mungkin ada orang yang bahasanya berbeda namun intinya mirip yaitu :

KITA TAKKAN PERNAH BISA MERASAKAN APA YANG ORANG LAIN RASAKAN SEBELUM KITA SENDIRI MENGALAMINYA...

Dan ketika kita sendiri mengalaminya, baru kita sadar bahwa ini berat..
Bahwa teman-teman kita yang pernah mengalaminya ternyata jauh lebih kuat..
Bahwa kita tak sekuat yang kita kira...

Sejenak pemikiran saya tentang kata BIJAK
Saya percaya seseorang yang bijak dengan dirinya sendiri adalah seseorang yang tak pernah merasa dirinya cukup kuat menghakimi orang lain dan menggunakan empati dengan tepat...

Belajar untuk jadi bijak yukk...

Niscaya kamu akan memandang dunia dengan sisi berbeda...

PS : the world is too beautiful.. Instead of enjoying the pain, change your side and enjoy the world...